9 Feb 2012


ALlah Tidak Memberi Pahala dan Menyiksa Hanya Karena Kecantikan Belaka 
Oleh
Muhammad Hadidi
Jurusan Islamic Law UMM



    Hal yang perlu diketahui adalah hanya sekedar cantik bukanlah alasan ALlah memberi pahala atau menimpakan dosa. Kalaulah sekiranya kecantikan merupakan salah satu sebab derajatnya diangkat oleh ALlah dan menambah pahalanya, tentulah Nabi Yusuf Ash-Shiddiq lebih utama daripada nabi-nabi lainnya karena ketampanan beliau. Berikut ini adalah nukilan dari salah satu bab dari kitab Kasyful Githaa’`An Hukmi Samaa’il Ghinaa’.
 
  Taqwa namun tidak memiliki kecantikan lahiriah. 
 
   Jika engkau tanyakan: “Darimanakah wajah itu dapat menyerap kecantikan dan keburukan amal perbuatan?”
Jawabnya: ”Jika engkau tidak memiliki firasat ahli iman maka silahkan tadabburi firman ALlah SWT berikut ini:
“Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka.” (Al-Fath:29)
 
Datanglah seorang laki-laki menemui Utsman, beliau berkata kepadanya: “Datang menemui kalian seorang laki-laki yang dari dari matanya terpancar perbuatan zina.”
Ia berkata: “Wahai amirul mukminin, adakah wahyu turun setelah wafatnya Rasulullah SAW?”
Beliau menjawab: “Tidak, namun apabila seorang bani adam melakukan suatu amalan maka ALlah akan memakaikannya pakaian amalan tersebut.” (Tafsir Al-Qurthubi (VI/3660))
 
Ibnu Abbas berkata: “Sesungguhnya amal kebaikan itu akan memancarkan cahaya di dalam hati, membersitkan sinar pada wajah, kekuatan pada tubuh, kelimpahan dalam rizki dan menumbuhkan rasa cinta di hati manusia kepadanya. Sesungguhnya amal kejahatan itu akan menggelapkan hati, menyuramkan wajah, melemahkan badan, mengurangkan rizki dan menimbulkan rasa benci di hati manusia kepadanya.” (Tafsir Ibnu Katsir (IV/204)).
 
Rahasia ini tersimpan dalam hati di alam dunia ini. Dan akan tampak pada raut muka yang dapat dilihat oleh orang yang memiliki firasat yang tajam. Pada hari kiamat nanti semuanya akan tampak nyata yang dapat dilihat oleh setiap orang dengan mata kepala mereka. ALlah berfirman:
”Pada hari yang diwaktu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram.” (Ali Imran: 106)
 
Dalam ayat lain ALlah berfirman:
“Dan pada hari Kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap ALlah, mukanya menjadi hitam.” (Az-Zumar:60)
 
ALlah juga berfirman:
“Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria, dan banyak(pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.” (‘Abasa:38-42)
 
Dalam hadits Rasulullah saw bersabda :
“Rombongan pertama yang masuk syurga wajah mereka bagaikan bulan purnama. Rombongan berikutnya bagaikan bintang dilangit yang paling terang cahanyanya.''(HR. Al-Bukhori, Muslim, At-Tirmidzi)
 
Hadits-hadits yang senada dengan ini sangat banyak sekali, yaitu tentang keadaan wajah ahli sa’adah (orang yang berbahagia) yang cantik, anggun, elok, dan berseri-seri, serta keadaan wajah ahli syaqawah (orang-orang yang celaka) yang jelek, muram, awut-awutan. Tanda yang paling menonjol tampak pada wajah adalah kejujuran dan kebohongan. Seorang pembohong akan tampak kusan wajahnya menurut kadar kebohongannya. Sementara orang jujur akan tampak putih berseri wajahnya menurut kadar kejujurannya.
 
Ini adalah perkara yang dapat dirasakan oleh setiap orang yang hidup hatinya. Sebab cahaya dan kegelapan, kebaikan dan kejahatan di dalam hati ini seringkali terbias pada wajah dan mata. Kedua anggota tubuh ini (wajah dan mata) banyak sekali terkait dengan aktifitas hati.
 
Perhatikan Firman ALlah Subhanahu wa Ta'ala:
“Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan anda-tandanya.” (Muhammad:30)
 
Dan ini ketetapan dari ALlah yang berlaku tanpa syarat. Maksudnya terbiasnya rahasia hati seseorang melalui lisannya lebih tampak daripada melalui wajahnya. Akan tetapi lambat laun akan tampak pada wajah secara tersembunyi yang diperlihatkan oleh ALlah kemudian semakin lama semakin menguat sehingga menjadi karakter yang terbersit pada wajah.
 
 -------------------------------------------------------------------------------------------
 diambil dari kitab Kasyful Githaa’`An Hukmi Samaa’il Ghinaa’, karangan Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauzi
 -------------------------------------------------------------------------------------------
 
 ** Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan menjadi motivasi bagi ana untuk memperbaiki diri.

Qana'ah Sifat Mulia yang Harus di Miliki Para Istri
Oleh
Muhammad Hadidi 
Mahasiswa Islamic Law University Muhammadiyah of Malang  




      Sikap qana’ah atau menerima apa adanya (nrimo) pada masalah kebendaan (duniawi) dalam kehidupan suami istri sangat dibutuhkan.Terutama bagi seorang istri tanpa adanya sifat qana’ah maka bisa dibayangkan bagaimana susahnya seorang suami.Setiap tiba dirumah maka yang terdengar adalah keluhan-keluhan, belum punya ini belum punya itu, ingin beli perhiasan, pakaian baru, sepatu baru, jilbab baru,perkakas rumah tangga, furniture, dan lain-lainnya.


     Alhamdulillah bila sang suami memiliki banyak harta apabila tidak maka yang terjadi adalah pertengkaran dan perselisihan melihat kedudukan suami dengan sebelah mata karena gaji yang kecil. Terkadang keluar keluhan bila si Fulan bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar mengapa engkau tidak???sehingga impian membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah warrahmah semakin jauh.Hati menjadi resah dan gundah lalu hilanglah rasa syukur, baik kepada suami maupun kepada Allah.Bila hal ini sudah menimpa pada seorang istri maka waspadalah ya ukhti,....sesungguhnya engkau telah membebani suamimu diluar kemampuannya.
      Engkau telah membuatnya terlalu sibuk dengan dunia untuk memenuhi segala keinginanmu. Berapa banyak kaum suami yang meninggalkan majelis ilmu syar'i demi mengejar uang lemburan? sebelum menikah rajin datang ke tempat majelis ilmu setelah menikah jarang terlihat lagi, mungkin tadinya datang setiap minggu sekarang frekuensinya menjadi sebulan dua kali atau sekali bahkan mungkin tidak datang lagi!!! Atau berapa banyak kaum suami yang rela menempuh jalan yang diharamkan Allah Ta'ala demi membahagiakan sang istri tercinta.Yang terakhir ini banyak ditempuh oleh para suami yang minim sekali ilmu agamanya sehingga demi ''senyuman sang istri'' rela ia menempuh jalan yang dimurkai-Nya.Wal'iyyadzu billah.
   Duhai, para istri...engkau adalah sebaik-baik perhiasan diatas muka bumi ini bila engkau memahami dienmu. Maka jadilah wanita dan istri yang shalihah,itu semua bisa dicapai bila engkau mampu mengendalikan hawa nafsumu, bergaul hanya dengan kawan-kawan yang shalihah dan berilmu,dan tutuplah matamu bila engkau melihat sesuatu yang tidak mungkin bisa engkau raih, lihatlah kebawah masih banyak yang lebih menderita dan lebih miskin hidupnya dibandingkan engkau. Maka akan kau temui dirimu menjadi orang yang mudah mensyukuri nikmat-Nya.
    Sifat qana'ah ibarat mutiara yang terpendam di bawah laut, barangsiapa yang bisa mengambilnya dan memilikinya maka beruntunglah ia.Seorang istri yang memiliki sifat qana'ah ini maka dapat membawa ketentraman dan kedamaian dalam rumah tangganya. Suami merasa sejuk berdampingan denganmu, rasanya akan enggan ia menjauh darimu.
Betapa bahagianya para suami yang memiliki istri yang qana'ah, para istri bisa memiliki sifat ini bila ia mau berusaha sekuat tenaga dan berdo'a kepada Allah semata. Ya, Allah janganlah kau jadikan dunia satu-satunya keinginan utama kami, amin.Wallahu'alam bishawwab.



8 Feb 2012


BEBERAPA WANITA YANG MENDAPAT PUJIAN ALLAH SWT
 Oleh
Muhammad Hadidi
Jurusan Family Law  FAI UMM

    Sejarah kaum muslim telah mencatat terdapat beberapa nama wanita terpandang yang di antara mereka ada yang dimuliakan Allah Ta’ala dengan surga, dan di antara mereka ada pula yang dihinakan Allah Ta’ala dengan neraka. Pada kesempatan kali ini, marilah kita mencoba menambah pengetahuan kita dengan mengenal figur beberapa wanita yang dipuji oleh Allah Ta’ala. Mudah-mudahan apa yang sedikit ini bisa menjadi pelajaran bagi kita.Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Seutama-utama wanita ahli surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahim.” (HR. Ahmad).

Khadijah binti Khuwailid rodhiyallahu anha

    Dia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang terhormat sehingga mendapat tempaan akhlak yang mulia, sifat yang tegas, penalaran yang tinggi, dan mampu menghindari hal-hal yang tidak terpuji sehingga kaumnya pada masa jahiliyah menyebutnya dengan ath thahirah (wanita yang suci). Dia merupakan orang pertama yang menyambut seruan iman yang dibawa Muhammad tanpa banyak membantah dan berdebat, bahkan ia tetap membenarkan, menghibur, dan membela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di saat semua orang mendustakan dan mengucilkan beliau. Khadijah telah mengorbankan seluruh hidupnya, jiwa dan hartanya untuk kepentingan dakwah di jalan Allah. Ia rela melepaskan kedudukannya yang terhormat di kalangan bangsanya dan ikut merasakan embargo yang dikenakan pada keluarganya.

     Pribadinya yang tenang membuatnya tidak tergesa-gesa dalam meng-ambil keputusan mengikuti kebanyakan pendapat penduduk negerinya yang menganggap Muhammad sebagai orang yang telah merusak tatanan dan tradisi luhur bangsanya. Karena keteguhan hati dan keistiqomahannya dalam beriman inilah Allah berkenan menitip salamNya lewat Jibril untuk Khadijah dan menyiapkan sebuah rumah baginya di surga. Tersebut dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah rodhiyallahu anhu, ia berkata: “Jibril datang kepada Nabi kemudian berkata: Wahai Rasulullah, ini Khadijah datang membawa bejana berisi lauk pauk, makanan dan minuman. Maka jika ia telah tiba, sampaikan salam untuknya dari Rabbnya dan dari aku, dan sampaikan kabar gembira untuknya dengan sebuah rumah dari mutiara di surga, tidak ada keributan di dalamnya dan tidak pula ada kepayahan.” (HR. Al-Bukhari).

   Besarnya keimanan Khadijah rodhiyallahu anha pada risalah nubuwah, dan kemuliaan akhlaknya sangat membekas di hati Rasulullah sehingga beliau selalu menyebut-nyebut kebaikannya walaupun Khadijah telah wafat. Diriwayatkan dari Aisyah rodhiyallahu anha, beliau berkata: “Rasulullah hampir tidak pernah keluar dari rumah sehingga beliau menyebut-nyebut kebaikan tentang Khadijah dan memuji-mujinya setiap hari sehingga aku menjadi cemburu maka aku berkata: Bukankah ia seorang wanita tua yang Allah telah menggantikannya dengan yang lebih baik untuk engkau? Maka beliau marah sampai berkerut dahinya kemudian bersabda: Tidak! Demi Allah, Allah tidak memberiku ganti yang lebih baik darinya. Sungguh ia telah beriman di saat manusia mendustakanku, dan menolongku dengan harta di saat manusia menjauhiku, dan dengannya Allah mengaruniakan anak padaku dan tidak dengan wanita (istri) yang lain. Aisyah berkata: Maka aku berjanji untuk tidak menjelek-jelekkannya selama-lamanya.”

Fatimah rodhiyallahu anha

     Dia adalah belahan jiwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, putri wanita terpandang dan mantap agamanya, istri dari laki-laki ahli surga yaitu Ali bin Abi Thalib. Dalam shahih Muslim menurut syarah An Nawawi Nabi bersabda: “Fathimah merupakan belahan diriku. Siapa yang menyakitinya, berarti menyakitiku.”. Dia rela hidup dalam kefakiran untuk mengecap manisnya iman bersama ayah dan suami tercinta. Dia korbankan segala apa yang dia miliki demi membantu menegakkan agama suami. Fathimah rodhiyallahu anha adalah wanita yang penyabar, taat beragama, baik perangainya, cepat puas dan suka bersyukur.
Maryam binti Imran rodhiyallahu anha
 
    Beliau merupakan figur wanita yang menjaga kehormatan dirinya dan taat beribadah kepada Rabbnya. Beliau rela mengorbankan masa remajanya untuk bermunajat mendekatkan diri pada Allah, sehingga Dia memberinya hadiah istimewa berupa kelahiran seorang Nabi dari rahimnya tanpa bapak. Dan Allah berfirman, yang artinya: “Dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Rabbnya dan kitab-kitabNya; dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat” (QS. At-Tahrim: 12)
Asiyah binti Muzahim rodhiyallahu anha

       Beliau adalah istri dari seorang penguasa yang lalim yaitu Fir’aun laknatullah ‘alaih. Akibat dari keimanan Asiyah kepada kerasulan Musa, ia harus rela menerima siksaan pedih dari suaminya. Betapapun besar kecintaan dan kepatuhannya pada suami ternyata di hatinya masih tersedia tempat tertinggi yang ia isi dengan cinta pada Allah dan RasulNya. Surga menjadi tujuan akhirnya sehingga kesulitan dan kepedihan yang ia rasakan di dunia sebagai akibat meninggalkan kemewahan hidup, budaya dan tradisi leluhur yang menyelisihi syariat Allah ia telan begitu saja bak pil kina demi kesenangan abadi. Akhirnya Asiyah meninggal dalam keadaan tersenyum dalam siksaan pengikut Fir’aun.

   Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu alaihi wasalam berkata: “Fir’aun memukulkan kedua tangan dan kakinya (Asiyah) dalam keadaan terikat. Maka ketika mereka (Fir’aun dan pengikutnya) meninggalkan Asiyah, malaikat menaunginya lalu ia berkata: Ya Rabb bangunkan sebuah rumah bagiku di sisimu dalam surga. Maka Allah perlihatkan rumah yang telah disediakan untuknya di surga sebelum meninggal.”

    Allah Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan Allah membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbi, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkan aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang dhalim” (QS. At-Tahrim: 11)

(Sumber Rujukan: Ahkamun Nisa’, Ibnul Jauzi. Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani. Tuhfatul Ahwadzi, Al Mubarakfuri.)


Akhlaq dan Aqidah Istri Idaman
Oleh
Muhammad Hadidi
Jurusan Family LAW FAI UMM 


      Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel yang berjudul “Istri Idaman Karir Wanita Mulia“. Pada pembahasan kali ini akan dipaparkan sedikit mengenai akhlaq bagi seorang Istri dari kalangan kaum muslimin yang mencari kemulian sejati. Semoga kaum muslimah yang membaca artikel ini tersentuh nuraninya dan memperoleh jalan hidayah mana kala selama ini telah terjatuh dalam jurang kenistaan dan jebakan-jebakan musuh Islam.
    Seorang isteri idaman harus memahami arti pentingnya aqidah islamiyah yang shahihah, karena sah tidaknya suatu amal tergantung kepada benar dan tidaknya aqidah seseorang. Isteri idaman adalah sosok yang selalu bersemangat dalam menuntut ilmu agama sehingga dia dapat mengetahui ilmu-ilmu syar’i baik yang berhubungan dengan aqidah, akhlak maupun dalam hal muamalah sebagaimana semangatnya para shahabiyah dalam menuntut ilmu agama Islam, mereka bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk menghilangkan kebodohan mereka dan beribadah kepada Allah di atas cahaya ilmu.

Sebagaimana riwayat dibawah ini:
Dari Abu Said Al Khudri dia berkata: Pernah suatu kali para wanita berkata kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Kaum laki-laki telah mengalahkan kami, maka jadikanlah satu hari untuk kami, Nabi pun menjanjikan satu hari dapat bertemu dengan mereka, kemudian Nabi memberi nasehat dan perintah kepada mereka. 

     Salah satu ucapan beliau kepada mereka adalah: “Tidaklah seorang wanita di antara kalian yang ditinggal mati tiga anaknya, kecuali mereka sebagai penghalang baginya dari api nereka. Seorang wanita bertanya: “Bagaimana kalau hanya dua?” Beliau menjawab: “Juga dua.” (HR. Al-Bukhari No 1010)

Seorang isteri yang aqidahnya benar akan tercermin dalam tingkah lakunya misalnya:
·          
    • Dia hanya bersahabat dengan wanita yang baik.
    • Selalu bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Rabbnya.
    • Bisa menjadi contoh bagi wanita lainnya.

Akhlak Isteri Idaman.
  • Berusaha berpegang teguh kepada akhlak-akhlak Islami yaitu: Ceria, pemalu, sabar, lembut tutur katanya dan selalu jujur.
  • Tidak banyak bicara, tidak suka merusak wanita lain, tidak suka ghibah (menggunjing) dan namimah (adu domba).
  • Selalu berusaha untuk menjaga hubungan baik dengan isteri suaminya yang lain (madunya) jika suaminya mempunyai isteri lebih dari satu.
  • Tidak menceritakan rahasia rumah tangga, diantaranya adalah hubungan suami isteri ataupun percekcokan dalam rumah tangga. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya di antara orang yang terburuk kedudukan-nya disisi Allah pada hari kiamat yaitu laki-laki yang mencumbui isterinya dan isteri mencumbui suaminya kemudian ia sebar luaskan rahasianya.” (HR. Muslim 4/157)
Isteri idaman di rumah suaminya
  • Membantu suaminya dalam kebaikan. Merupakan kebaikan bagi seorang isteri bila mampu mendorong suaminya untuk berbuat baik, misalnya mendo-rong suaminya agar selalu ihsan dan berbakti kepada kedua orang tuanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah.” (Al Ahqaf 15)
  • Membantunya dalam menjalin hubungan baik dengan saudara-saudaranya.
  • Membantunya dalam ketaatan.
  • Berdedikasi (semangat hidup) yang tinggi.
  • Ekonomis dan pandai mengatur rumah tangga.
  • Bagus didalam mendidik anak.
  • Penampilan:
    Di dalam rumah, seorang isteri yang shalehah harus selalu memperhatikan penampilannya di rumah suaminya lebih-lebih jika suaminya berada di sisinya maka Islam sangat menganjurkan untuk berhias dengan hal-hal yang mubah sehingga menyenangkan hati suaminya.
    Jika keluar rumah, seorang isteri yang sholehah harus memperhati-kan hal-hal berikut: Harus minta izin suami, Harus menutup aurat dan tidak menampakkan perhiasannya, Tidak memakai wangi-wangian, Tidak banyak keluar kecuali untuk tujuan syar’i atau keperluan yang sangat mendesak.